Lihat hujan turun
Mulai membasahi bumi
Langit gelap dan kelabu
Satu kejadian dimana semua hitam
Agak menyeramkan
Tapi banyak kehidupan lahir
kumpulan Puisi dan Tulisan pribadi, bercerita tentang Cinta, Akal, Dunia, Imajinasi. "Aku bukan dia, hidupku tak harus selalu sama, ini cerita ku yang sudah tersusun rapi"
Lihat hujan turun
Mulai membasahi bumi
Langit gelap dan kelabu
Satu kejadian dimana semua hitam
Agak menyeramkan
Tapi banyak kehidupan lahir
Sungguh aku mencintaimu
Layaknya seseorang yang sedang kehausan
Kulihat dari kanan kau tampak sempurna
Kulihat dari kiri kau tampak anggun
Anginpun ingin memelukmu
Hingga tercium aroma tubuhmu
Bunga saja malu melihatmu
Batu yang ku pijak ternyata basah
Kaki ku kemudian terjatuh
Dan aku kesakitan
Dari atas mereka cuma melihat
Sebagian dari mereka tertawa
Sebagian dari mereka diam
Sebagian dari mereka iba
Selebihnya mereka masa bodo
Riuhnya suara membuat pengang
Tegangnya suara membuat keras kepala
Lembutnya hati membuat sayup
Cintanya membuat rindu
Guraunya membuat bahagia
Ku rasa panas, tapi aku sedang berteduh
Ku rasa dingin, tapi aku di depan api ungguh
Aku haus tapi aku tenggelam
Aku lapar sedangkan aku di kebun
Ah.. aku menemukan kaca
Rumah mu yang terlihat megah menerkam cahaya
Kau korbankan miliyaran kehidupan tertimbun
Egoisnya engkau hanya untuk hidup
Lihatlah...
Mereka mati dari egoismu
Lihatlah...
Mereka murka karena mu
Putaran mu membuat sejuk
Tak ada angin riuh
Kulihat semua nampak sama saja
Hijau dan kuning
Tak ada warna lain
Herannya aku kenapa kau begitu menarik
Pagi tadi dibangunkan oleh mimpi
Sesak sekali dada dan berkeringat
Aku kira aku disana
Nyatanya aku sedang tertidur
Kudapati kegelapan di ruang
Sejenak menghela nafas
Aku kira bisa baik-baik saja
Nyatanya jantung semakin kencang
Pikiran entah kemana
Sungguh ada cinta bernuasa asmara
Di antara pilar-pilar langit
Lihatlah engkau dengan gaun putihmu
Kau tutupi semua lekuk indah mu
Diam, berbicara dalan hati, dan menunduk
Ku panggil kau tampak saja diam
Tak menghiraukan siapapun
Kini kepalamu setara dengan telapak kaki
Kau terus bergumam dengan gerakan yang sama
Hingga kalimat salam kau ucapkan
Aromamu semerbak kala pagi menjelang
Teman terbaik sembari mendengar angin
Riuhnya suara burung saling menyapa
Warna mu pekat nyaris tak terlihat
Sahabatmu terbungkus dan digoreng
Ah istriku tercinta
Aku sadar tubuhku mungil
Jalanku cepat namun lambat bagi mereka
Aku sering berpapasan dengan rekanku
Kadang kala aku berbincang sebentar
Kadang kala hanya berpapasan saja
Manusa banyak mengeluh soal beban
Ku kira mereka kurang pandai bersyukur
Mereka tak tahu bahwa aku tak pernah tidur
Setiap hari aku membawa beban
Dari jarak yang sangat jauh
Kadang kala rekan ku mati
Atau tersesat hingga tak tahu dimana
Dan....
Sebagain besar hidup ku aku habiskan mencari makan
Lensa dunia kembali berbinar-binar
Ku balikan semua perkataan semu-mu
Kulit ku mulai terbakar
Ia menjerit sekecangnya
Menahan panasnya matahari
Di dalam raga tanpak sejuk
Dan tetap bergembira ria
Meski ia tahu bahwa kulitku terbakar