Iklan

Minggu, 24 April 2022

Kesempurnaan yang hilang

Aku pernah di puncak kebahagiaan
Dimana kesempurnaan jiwa di raih
Hingga ku lihat cahaya matahari
Seperti sedang bersenandung
Menyapa setiap mahluk yang terkenanya
Disana aku tak berbicara
Ku dengarkan saja perbincangan
Antara tumbuhan dan bumi
Udara dan matahari
Binatang dan air
Mereka lepas dari belenggu
Seorang induk memberikan anaknya kepadaku
Menyuruhku untuk menelannya
Hingga rasa lapar hilang
Kemudian aku kuburkan
Dan anak itu tumbuh setelah di makan bumi
Jiwaku terbuai oleh kearipan
Jasadku tercengang hingga tak kuat
Menahan bisingnya tawa ruhani
Kemudian ia di ajak berbahagia
Hingga mereka bersahabat
Dan jasad mulai melebur bersama bumi
Kini ruh terbuai ke langit

Selasa, 12 April 2022

Tulang punggung

Setengah tinggiku bagi rata denganmu
Tak masalah bagiku jika engkau nyaman
Dua pertiga umur ku bagi denganmu
Agar nafasmu mejulang ke langit
Dari satu menuju dua
Dari dua menuju seribu
Dari seribu menjadi satu
Kokohlah ia kuatlah ia
Bentuk dada yang tegak
Serta bahu bak hamparan besi
Punggungmu jauh lebih kokoh dan luas
Seperti samudera

Kamis, 07 April 2022

Pupil putih

Tenggorokan mulai meradang
Hidung mulai mampet
Kepala sedikit pusing
Badan tak senyaman sehat
Kurasa aku mulai menggigil 
Aku butuh selimut
Tolong ambilkan aku air hangat dan madu
Tolong jangan terlalu ramai
Aku butuh sedikit kesendirian
Perlahan aku memelas balas kasih
Ku harap Engkau menjenguk hamba
Yang sudah semakin tak berdaya
Mataku mulai tak bisa di ajak becanda
Sungguh ada saatnya dimana kelam
Dan gelap adalah kebahagian yang mutlak

Rabu, 06 April 2022

Anugrah

Aku tinggalkan jejak harapan untukmu
Ku ciptakan puisi untuk beritaku
Ku lihat engkau semakin dewasa
Dan aku semakin melemah saja
Ah.. sepertinya aku terlalu banyak bergerak
Sebentar lagi kau akan pergi
Bersama teman sejatimu
Kau tinggalkan aku di saat aku mulai lemah
Tau kah kau ?
Saat kau tak bisa berjalan dan berbicara
Akulah yang merawatmu
Kuberikan segala cinta kasih untukmu
Dari bentuk mata, bibir, hidung hingga kepala
Lantas kemana saja kau saat itu ?
Kulihat kau mulai asik menari
Di atas mimbar, sembari berkhotbah
Tentang teman sejatimu
Dan kini kau ingin membelah dirimu
"Ibu, ayah terimakasih"

Doa ibu

Terbiasa bergelantungan di atas pohon
Kini buah terjauh akibat badai
Dan di makan oleh binatang
Ia nampak sedih dan asing
Tetesan air hujan membuat lubang di tanah
Dan ia terperangkap di dalamnya
Kemudian terkubur
Benih pun muncul
ia berbuah lebat
Dan menjadi induk kehidupan di sekitarnya
Ia berhasil bangkit dari rasa sedih
Kemudian dia sadar
Ada bisikan "kujaga kau dengan ucapan"

Senin, 04 April 2022

Di dalam rahim kasih sayang

Ada rindu yang tertinggal
Dikala suara dan aromamu hilang
Sedih rasanya jika tidak terlihat lagi
Namun titah tetaplah harus dilakukan
Suara sandalmu menjadi pelipur lara
Gemerik anak kecil menjadi cerminku
Sinar matahari memeluk kita
Angin menjadi pesan kita
Doa adalah harapan kita
Dan kita saling berkomunikasi lewat bulan
Lampu jalanan menyapa kesunyian
Lampu rumah menjadi penghias malam
Lalu lalang roda besi menjadi hiburan
Temanku bubuk tembakau
Untuk sejenak melupakan keresahan hati
Atas rindu yang menetap
Hingga aku melupakan diri sendiri

Takut panas

Bersembunyi di bawah pohon
Agar tak terkena panas
Meski rimbun namun tetap saja terasa
Kembali bersembunyi di dalam gua
Bahagia tak ada panas matahari terasa
Namun semakin lama di dalam
Tubuhku menggigil
Tak ada suara terdengar
Hanya suara tetesan air yang jatuh
Aku tersesat dan ketakutan
Lambat laun kulitku berubah menjadi lumut

Di atas altar rindu

Dikala gundah melanda tubuh
Bagai ombak menerpa karang
Membawa pasir dan sepihan kayu
Menepi di pantai
Ku adukan segala resah yang ada
Bercerita denganMu dalam ukiran tinta cinta
Dalam gelap dan dalam hening
Membuat sesak dada karena rindu
Kubendung air yang nyaris jatuh dari mata
Tapi tetap saja bah air rindu semakin besar
Hingga menetes di altar suci
Malu rasanya dilihatMu
Ketika tak bisa menahan kesedihan
Ceritaku selalu tentang nestapa
Kuharap Engkau selalu tersenyum
Dan tak pernah bosan
Dari setiap kata yang keluar dari mulut ini
Tentang harapan dan pengampunan

Minggu, 03 April 2022

Surat

Kubaca suratmu di kala hujan
Sesekali aku tertawa membacanya
Sesekali aku bersedih mendengarnya
Bagai es yang terjatuh di lahar
Kuikuti pepatahmu
Sejengkal demi sejengkal
Meski jejakmu yang besar 
hingga membuat air laut bertaburan
Untuk peri mungil yang kelelahan
Mengintari petilasan, menuju kehakikian
Kubuka lembar lain di suratmu
Hampir saja kepalaku pecah
Sebab semburan puisi yang keluar
Mataku terpesona hingga kering terbakar
Oleh keindahan bentuk dan suaramu
Perbicangan kita akhirnya di paksa selesai
Oleh suara ayam jantan dan kebisingan dunia