Iklan

Rabu, 01 Juni 2022

Diam dalam cinta




Ketika purnama datang di siang hari
Matahari pun iri hingga menutup diri
Awan menutupi matahari agar tak terlihat
Langit membiru seketika menyambut purnama
Dari jauh ku lihat pesona mu tak luntur
Dari dekat ku lihat pesona mu gemerlap
Semakin lama aku melihat mu
Semakin aku tenggalam dalam rasa gelisah
Senyum mu memantahkan kesedihan
Tertawa mu menghancurkan nestapa
Perjalanan mu di ikuti oleh para malaikat
Lesung pipi mu menyentuh titik terlemah ku
Oh sungguh jika hati ku bisa berbicara
Mungkin ia akan selalu menyapa mu
Dengan pujian-pujian cinta
Ia akan berkhutbah pada langit dan bumi
Tentang mu, dan rasa terimakasih kepada Tuhan
Tubuh ini sudah termakan racun asmara
Ia sakit dan demam cinta
Tak ada obat untuk kesembuhannya
Hingga ia mati dan cintanya terbawa ke kubur






Ramanda

Aku sering menangis saat kau pergi
Aku sering rindu saat kau jauh
Aku sering kesepian saat kau tak ada
Aku iri terhadap orang lain yang bersamamu
Aku bahagia saat kau ada
Aku bahagia saat kau menyapa
Aku bahagia saat kita bersenda-gurau
Seiring berjalannya waktu kini kau asing
Hingga akhirnya aku lelah
Untuk terus berlari mengejarmu
Meski begitu aku tetap mencintaimu
Terimakasih untuk persada alam
Aku terlahir darimu 

Rabu, 25 Mei 2022

Di tepi barat laut


Suara semesta memanggil
Hancurlah pikirannya
Di balik jeruji angin
Berjalan terus mencari kebebasan
Menyapa satu sama lain
Berbincang kesana kemari
Nyatanya tak menemukan jawban
Suara-suara alam silih berganti
Sayang tidak di pahami dengan akalnya
Keterbatasan pengetahuan membuatnya buta
Merangkaklah...
Berharap aman dan tak terluka tubuh
Terus bersuara hingga bisu
Terulah melihat hingga buta
Teruslah mendengar hingga tuli
Teruslah berjalan hingga lumpuh
Teruslah berharap hingga putus asa
Teruslah berpikir hingga tak waras
Terulah mencium hingga meludah
Teruslah menyentuh hingga menusuk
Teruslah merasa hingga tersakiti
Teruslah benci hingga mencintai kebencian

Senin, 23 Mei 2022

Dua jejak kaki


Di atas singgasana ia hanya diam
Di tepi kuburan ia menangis
Di tengah hutan ia bimbang
Di dalam hati ia risau
Berusaha mengejar fiksi
Tabulah cita-citanya
Seindah matahari pagi pun masih tak bahagia
Meski terlihat hangat ia tetap merasa dingin
Terus berpikir malam
Meski pagi sudah menyapanya
Berusaha sebaik mungkin agar ia di cintai
Tapi malam telah pergi bersama bulan
Ia bingung dan gundah gulana
harapannya telah mati
Nyatanya cinta ia bawa pergi
Meski hatinya bersedih
Berusaha terus menutup diri
Dan ia terkurung di dalam doa

Sabtu, 14 Mei 2022

Akar mati

Sore itu masih terlihat cerah
Nampak sugra mengintip genit
Bumi memalingkan wajahnya
Seolah sugra mencintainya
Kupanggil semua hewan di sekitar
Ku sogok ia dengan siulan
Satu burung datang terheran-heran
Seolah temannya memanggil tapi tak ada
Aku mulai bosan di tempat ini
Ku putuskan untuk pergi
Dan akhirnya
aku sendiri bosan dengan tubuh ini

Minggu, 24 April 2022

Kesempurnaan yang hilang

Aku pernah di puncak kebahagiaan
Dimana kesempurnaan jiwa di raih
Hingga ku lihat cahaya matahari
Seperti sedang bersenandung
Menyapa setiap mahluk yang terkenanya
Disana aku tak berbicara
Ku dengarkan saja perbincangan
Antara tumbuhan dan bumi
Udara dan matahari
Binatang dan air
Mereka lepas dari belenggu
Seorang induk memberikan anaknya kepadaku
Menyuruhku untuk menelannya
Hingga rasa lapar hilang
Kemudian aku kuburkan
Dan anak itu tumbuh setelah di makan bumi
Jiwaku terbuai oleh kearipan
Jasadku tercengang hingga tak kuat
Menahan bisingnya tawa ruhani
Kemudian ia di ajak berbahagia
Hingga mereka bersahabat
Dan jasad mulai melebur bersama bumi
Kini ruh terbuai ke langit

Selasa, 12 April 2022

Tulang punggung

Setengah tinggiku bagi rata denganmu
Tak masalah bagiku jika engkau nyaman
Dua pertiga umur ku bagi denganmu
Agar nafasmu mejulang ke langit
Dari satu menuju dua
Dari dua menuju seribu
Dari seribu menjadi satu
Kokohlah ia kuatlah ia
Bentuk dada yang tegak
Serta bahu bak hamparan besi
Punggungmu jauh lebih kokoh dan luas
Seperti samudera

Kamis, 07 April 2022

Pupil putih

Tenggorokan mulai meradang
Hidung mulai mampet
Kepala sedikit pusing
Badan tak senyaman sehat
Kurasa aku mulai menggigil 
Aku butuh selimut
Tolong ambilkan aku air hangat dan madu
Tolong jangan terlalu ramai
Aku butuh sedikit kesendirian
Perlahan aku memelas balas kasih
Ku harap Engkau menjenguk hamba
Yang sudah semakin tak berdaya
Mataku mulai tak bisa di ajak becanda
Sungguh ada saatnya dimana kelam
Dan gelap adalah kebahagian yang mutlak

Rabu, 06 April 2022

Anugrah

Aku tinggalkan jejak harapan untukmu
Ku ciptakan puisi untuk beritaku
Ku lihat engkau semakin dewasa
Dan aku semakin melemah saja
Ah.. sepertinya aku terlalu banyak bergerak
Sebentar lagi kau akan pergi
Bersama teman sejatimu
Kau tinggalkan aku di saat aku mulai lemah
Tau kah kau ?
Saat kau tak bisa berjalan dan berbicara
Akulah yang merawatmu
Kuberikan segala cinta kasih untukmu
Dari bentuk mata, bibir, hidung hingga kepala
Lantas kemana saja kau saat itu ?
Kulihat kau mulai asik menari
Di atas mimbar, sembari berkhotbah
Tentang teman sejatimu
Dan kini kau ingin membelah dirimu
"Ibu, ayah terimakasih"

Doa ibu

Terbiasa bergelantungan di atas pohon
Kini buah terjauh akibat badai
Dan di makan oleh binatang
Ia nampak sedih dan asing
Tetesan air hujan membuat lubang di tanah
Dan ia terperangkap di dalamnya
Kemudian terkubur
Benih pun muncul
ia berbuah lebat
Dan menjadi induk kehidupan di sekitarnya
Ia berhasil bangkit dari rasa sedih
Kemudian dia sadar
Ada bisikan "kujaga kau dengan ucapan"

Senin, 04 April 2022

Di dalam rahim kasih sayang

Ada rindu yang tertinggal
Dikala suara dan aromamu hilang
Sedih rasanya jika tidak terlihat lagi
Namun titah tetaplah harus dilakukan
Suara sandalmu menjadi pelipur lara
Gemerik anak kecil menjadi cerminku
Sinar matahari memeluk kita
Angin menjadi pesan kita
Doa adalah harapan kita
Dan kita saling berkomunikasi lewat bulan
Lampu jalanan menyapa kesunyian
Lampu rumah menjadi penghias malam
Lalu lalang roda besi menjadi hiburan
Temanku bubuk tembakau
Untuk sejenak melupakan keresahan hati
Atas rindu yang menetap
Hingga aku melupakan diri sendiri

Takut panas

Bersembunyi di bawah pohon
Agar tak terkena panas
Meski rimbun namun tetap saja terasa
Kembali bersembunyi di dalam gua
Bahagia tak ada panas matahari terasa
Namun semakin lama di dalam
Tubuhku menggigil
Tak ada suara terdengar
Hanya suara tetesan air yang jatuh
Aku tersesat dan ketakutan
Lambat laun kulitku berubah menjadi lumut

Di atas altar rindu

Dikala gundah melanda tubuh
Bagai ombak menerpa karang
Membawa pasir dan sepihan kayu
Menepi di pantai
Ku adukan segala resah yang ada
Bercerita denganMu dalam ukiran tinta cinta
Dalam gelap dan dalam hening
Membuat sesak dada karena rindu
Kubendung air yang nyaris jatuh dari mata
Tapi tetap saja bah air rindu semakin besar
Hingga menetes di altar suci
Malu rasanya dilihatMu
Ketika tak bisa menahan kesedihan
Ceritaku selalu tentang nestapa
Kuharap Engkau selalu tersenyum
Dan tak pernah bosan
Dari setiap kata yang keluar dari mulut ini
Tentang harapan dan pengampunan

Minggu, 03 April 2022

Surat

Kubaca suratmu di kala hujan
Sesekali aku tertawa membacanya
Sesekali aku bersedih mendengarnya
Bagai es yang terjatuh di lahar
Kuikuti pepatahmu
Sejengkal demi sejengkal
Meski jejakmu yang besar 
hingga membuat air laut bertaburan
Untuk peri mungil yang kelelahan
Mengintari petilasan, menuju kehakikian
Kubuka lembar lain di suratmu
Hampir saja kepalaku pecah
Sebab semburan puisi yang keluar
Mataku terpesona hingga kering terbakar
Oleh keindahan bentuk dan suaramu
Perbicangan kita akhirnya di paksa selesai
Oleh suara ayam jantan dan kebisingan dunia

Selasa, 29 Maret 2022

Runtuhnya langit

Di saat petang burung mulai berkumpul
Saling menyaut satu sama lain
Matahari mulai tak berdaya
Terlihat dari langit yang langsat
Suara angin mulai sayu
Jeritan pemangsa mulai riuh 
menyambut malam
Kita mulai berganti baju
Sebagian nyaman dengan telanjang
Ada yang riang menunggu pagi
Ada yang bersedih di malam hari
Semua mulai terbiasa
hingga akhirnya hanya ingatan semu
Yang menjadi penghibur diri

Senin, 28 Maret 2022

Ku bakar gaharu untuk cendana

Ketika suara melunta-lunta kegirangan
Sayat-sayat rindu menggebu di telinga
Tertarik sudah syaraf di dalam
Membetuk lingkaran sambil menari
Mengelilingi nada-nada senar yang bergetar
Tak ada kata terucap di dalam kegelisahan
Hanya gelombang yang riuh berterbangan
Menembus kepala sampai tak sadarkan diri
Pendengaran ini mulai jatuh cinta
Dengan hal yang tak bisa di lihat dan di raba
Pundak rasanya seperti tertiup rindu
Lihat banyak cinta yang mengudara
Jatuhkan satu ! Lalu kau akan gila
Jatuhkan satu ! Lalu kau akan buta
Jatuhkan satu ! Lalu kau akan lumpuh
Jatuhkan satu ! Lalu kau akan bisu
Jatuhkan satu ! Lalu kau akan tersesat

Minggu, 27 Maret 2022

Kubah

Berlomba-loba membangun rumah Tuhan
Terbuat dari emas perak zambud dan ruby
Bermegah-megahan dengannya
Berharap pujian dan ridho
Berharap menjadi sufi
Sedangkan perutnya menjadi kuburan
Bagi tumbuhan dan hewan
Seolah menjadi maqomam mahmuda
Menebarkan kebaikan
Sangat disayangkan itu nampak sepeti rawa
Terlihat oleh hati yang sedang berkeliling
Ia bersemayam di dalam jiwa yang melebur
Dengan kemegahan cintaNya

Bunga ilalang

Ketika matahari menyorot ruang penyucian

Ada rasa yang masih terabaikan

Kadang ia tetap bersembunyi

Jauh di kedalaman dan sesekali muncul

Dari masa kecil ia tetap bersemayam

Tak pernah merasa lapar dan kesepian

Ia hanya butuh tempat untuk bersembunyi

Aroma yang di bawa angin mencium keningnya

Ia terpesona hingga tak bernafas

Sisik di tubuhnya mengelupas

Daun salam menyapanya

Kayu gaharu memeluknya

Cendana memberinya hadiah

Ia nampak berbahagia dengan kenangannya

Kamis, 24 Maret 2022

Penghuni gunung

Ketika malam engkau bersenandung
Ketika siang engkau berkeluhkesah
Ketika terinjak engkau hanya pasrah
Ketika tangan mu patah atas kejahatan
Engkau tetap diam

Engkau tak bergerak namun tumbuh
Menjulang tinggi sampai menjadi rumah
Bagi semua cinta dan kasih
Tubuh mu menghangatkan jiwa 

Anak-anak mu mengenyangkan perut
Nafas mu melegakan dada
Tubuh mu sering dihancurkan dan dipasang kembali dengan bentuk yang berbeda

Ulat sering menggerogoti mu
Burung dan tupai menjadi teman sejati mu
Manusia memanfaatkan mu
Engkau laksana pelindung bagi monyet

Engkau terpaku oleh bumi
Di terpa badai engkau menari
Di sambar petir engkau berapi
Ketika terkubur engkau mengeras seperti batu

Rabu, 23 Maret 2022

Asmara hati

Mulanya kita saling bertatap

Lambat laun kita semakin larut

Bagai susu dan gandum yang menjadi roti

Setiap kata yang terucap

Layaknya paus di dalam samudra

Meski tak terlihat

Nyatanya ada harapan besar di dalamnya

Ketika kau memanggil namaku

Seperti nada yang berjatuhan ke lantai

Hatiku terbawa irama hingga menari sendiri

Selasa, 22 Maret 2022

Matinya harapan

Mantra yang terucap

Menacap di jantung

Mengutuk insan dengan hina dina

Terus menggerogoti sampai ia tak berdaya

Ia merangkak berharap bebas dan menjauh

Naas upaya itu sia-sia

Terus berharap semoga datang pertolongan

Ia berteman dengan serangga

Berbicara untuk menenangkan diri

Baginya mati adalah harapan

Untuk bahagia dan membusuk 

Senin, 21 Maret 2022

Ikuti saja

 Adakalanya sendiri itu bahagia

Adakalanya riuh dengan kebisingan tertawa

Saat itu terjadi ada risau melanda

Terbelenggu menjadi susunan kata


Disaat bersamaan nafas menjadi sesak

Jantung mulai melelah

Sebagian tubuh membiru

Pikiran kabur dan mata menjadi sayu

Diskusi cinta

 Terbakar sudah daun yang kering

Pohon yang nyaris tumbang kini bertemu hujan

Putik dan pucuk mulai kembali menyapa

Memperelokan pesona pohon

Udara yang berjalan pelan menjadi pelengkap

Kebahagian ragam mahluk yang hidup di sana

Mereka berpesta atas kembalinya sang induk

Seraya berucap tiada henti

Hingga mereka bertemu bunga tidur

Dipelukan sang induk

Minggu, 20 Maret 2022

Aku

Aku sang pemuja cinta
Jika Dikau hadir di hadapan ku
Iri sudah semua mahluk di sekitar kita

Inikah rasanya buah syurga ?
Qalbu ku melepaskan diri hingga aku hampir mati
Begitu aku sadar kau hanya sebagai perhiasan
Aku bergumam dalam hati anugrah yang dulu singgah
Lambat laun pergi meninggalkan harapan

Samudra yang luas nyatanya tak menghibur
Untuk waktu yang panjang jiwa masih bersedih
Perlahan jiwa menemukan cinta sejatinya
Akhir dari cerita ku belum selesai
Ribuan naskah telah Engkau susun untuk ku
Dari rasa sakit aku belajar mencintai
Ikhlas dan sabar adalah kunci mutlak Tuhan untuk kekasihNya




Sabtu, 12 Maret 2022

Raga yang tak terbungkus

Harapan adalah impian

 Jika aku tak ada

Akan kau tetap jatuh cinta

Jika neraka tak tercipta

Akan kah kau masih berbuat baik

Jika gelap tak ada

Akan kah kau mengenal terang

Jika kau tak ada

Akan kau berharap ada

Matahari telah menjadi saksi

Ketika engkau berteriak

Jalan mu menyempit

Dan engkau berakhir

Tanpa seorangpun mengetahui

Bahwa engkau pernah hidup

Minggu, 27 Februari 2022

Satu arah

Abu berteman dengan api

Tapi kayu harus lah mati

Ketika kayu mati

Terciptalah abu

Api yang bergembira serya membakar kayu

Tertawa terbahak-bahak di atasnya

Terus menari sampai ia pun mati

Kayu menangis sejadi-jadinya

Menahan sakit ketika api perlahan memakannya

Abu yang kemudian tercipta

Tersenyum gembira atas kehidupannya

Ia bertebaran terbawa angin

Dan manghilang terkena hujan 

Sabtu, 26 Februari 2022

Jantung jiwa

Irama surga mulai terdengar

Sorak-sorak kebahagian datang

Saling bercumbu dengan nestapa

Tak terasa aku berjalan jinjit

Patah hati tertutup

Nestapa terbakar api lara

Tertawa lepas tanpa bicara

Hati kita bersenandung

Syair dan puisi pelengkap harpa

Permata tak di pandang

Emas tak berharga

Hanya hati dan kalbu

Serta jiwa yang berbuai candu asmara

Jumat, 25 Februari 2022

Berhenti

Aku kelelahan memanjat pohon apel

Ku dapati banyak

Lahapnya aku memakan

Tak terasa rasa kantuk datang

Setelah di terpa angin lembut

Ketika aku bangun

Nampak badai akan datang

Esok harinya aku kembali

 Untuk tertidur di pangkuan akarnya

Naas sedih hati

Ia tersambar petir saat badai

Membakar segalanya yang di sampingnya

Kini aku kembali ke tempat asal

Kamis, 24 Februari 2022

Pengaduan

Sungguh bijak pun tak menjamin

Orang baik dan mengerti waktu

Sealim apapun engkau

Tak menjadi jaminan sufi

Ibadah mu tak beguna untuk Tuhan

Ketika engkau telah berhutang

Ucapan mu tumpul

Karena terhalang janji

Sekalipun kekasih Tuhan berucap

Untuk menjaga mu sebab sesuatu

Tidak mungkin kamu selamat

Sang Hakim yang Maha Adil tahu

Bahwa ini antara aku dan kau

Ku jerat kau dengan kesedihan hati

Ku halangi cahaya dari mu

Sebab kau mengotori kesucian akal


Senin, 21 Februari 2022

Aku patah hati oleh dunia

Sesekali mata ku memandang langit

Hanya ada awan di sana

Ku lihat di balik awan itu

Nampak masih tak ada apapun

'Oh kawan begitu' kata hati ku

Andaikan aku bisa bicara

Akan ku ceritakan kepada mu dari segala arah

Andaikan kau bisa mendengar

Dari apa yang aku dengar

Niscaya kau akan mati seketika

Riuh di kepala mu

Akan sirna seketika

Malangnya aku

Terjebak dalam tubuh cacat

Andai saja kau bisa melihat

Dari apa yang aku lihat

Niscaya kau akan patah hati terhadap dunia

Kamis, 17 Februari 2022

Bodoh

Bagaimana aku bisa membacamu

Sedangkan aku buta

Bagimana aku bisa mendengarmu

Sedangkan aku tuli

Bagaimana aku bisa memelukmu

Sedangkan aku tak memiliki raga

Jika kau menjadi aku

Mereka menjadi kita

Sungguh angin pun tak mampu menyentuhku

Banyak orang menghardikku

Dengan celaan yang menyayat hati

Oh kalian...

Sedang dimabukan oleh api hati

Jiwa kalian terbang

Karena terusik oleh murka Tuhan

Tubuh mu menghitam dan mengeras

Menjadi api terkena panas matahati

Membuat dunia terbakar

Karena bara di tubuh kalian tertiup angin

Sungguh malang nasib mu

Kini menjadi debu yang tak di makan tumbuhan

Minggu, 13 Februari 2022

Pencandu dosa

 Aku adalah pecandu dosa

Tiada hari ku habiskan untuk keburukan

Bersenang-senang dengan api

Bersedih dengan kebaikan

Aku terlahir suci

Dan mati menelan kotoran

Oh malangnya aku...

Bagaimana mungkin

Aku bisa lari kasih sayang dan ampun-Nya

Rabu, 02 Februari 2022

Senja Surgawi

Nestapa ku raih

Sebab nafsu yang menguasai

Kini senja surgawi datang

Menjelma dalam bentuk

Aduhai celakanya aku

Tak kuasa diri ini

Kini cawan anggur asmara di tangan

Bermabuk-mabukan dengan cinta

Ku kira dapat melepas dahaga rindu

Ternyata rasanya sudah tak sama

Bukankah anggur semakin lama semakin bagus?

Ternyata pemiliknya lupa menutup rapat

Malangnya nasib..

Tapi pecandu tidak begitu

Ini anggur pilihan dengan jenis dan rasa berbeda